Sabtu, 14 Juli 2007

Dara Student SMK

Aku dan Vivi saling mengenali antara satu sama lain dii MIRC satu tahun yang lalu .Kami berkenalan dalam chan-nel "mamak", berkongsi bersamanya banyak kegembiraan dan kesedihan Walaupun kami hanya berhubung melalui internet dan telphone, namun aku dapat merasakan sesuatu yang menarik pada Vivi.

Vivi berusia 17 tahun. Dia baru kelas II di sebuah sekolah menengah di pinggir bandar itu dan akan naik ke kelas III tidak lama lagi. Body solid. Buah dada sederhana, pinggang ramping dan punggung lebar dan pejal.Tinggi dalam 160 dan figurenya 34c 29 37.

Aku disapa oleh seorang gadis berpakaian T-shirt yang melekap tubuhnya dengan slack gelap dan bertudung biru muda .

"Ini Kakak Angga?" tanya wanita itu.

Aku melamun sambil berfikir sejenak, oh! ini rupanya si Vivi! agresif orangnya, wajahnya imut seperti artis sinetron remaja bisik hatiku.

"Ini Kakak Angga?" tanya wanita itu lagi.

Aku tersentak dari lamunan memandang tepat ke wajahnya, "Ya, saya Kakak Angga!" jawabku lembut sambil senyum dan mengulurkan tangan sambil berjabatan tangan.

"Saya Vivi Kak," Dia senyum kecil menyambut jabatan tanganku dan tangan yang lentik itu menusuk hatiku dan aku tahu memang itu suara Vivi.

Wajah manis Vivi dapat kurasakan dia seorang remaja yang sofistikated juga. Dia memang kelihatan elegant, anggun dan tahu apa yang dimaksudkannya! Dia nampak matang. She looks young than her age.

"dikeluarga Vivi kamu saudara yang terbesar atau kecil ?"

"Saya yang bungsu dari tiga beradik. Kakak sulung sudah berkeluarga dan sorang kakak perempuan. Ayah dan ibu sudah tua."

"Wah kalo gitu Vivi Anak yang paling dimanja nih"

"Hihi.. nga juga. Cuma diberi sedikit kebebasan. Masih bergantung dan berlindung dibawah ketiak orang tua."

Aku suka dengannya. Kami bercengkrama saling ngobrol mengenai apa saja yang terlintas walaupun sesekali aku mengarah ke cerita seks. Walaupun kami jauh berbeda usia, tidak pula aku mengumpamakan Vivi macam adikku. Sepanjang pengenalan aku dengan Vivi, aku anggap Vivi tidak jauh seperti gadis remaja yang lain lain, seks menjadi topik perbualan. Antara hasrat berahi dan senang membuatku penasaran.

" Kenapa sih kok Kakak topik bicaranya tentang seks?.. “Vivikan belum pernah berbuat?"

"Berbuat apa?"

"SEKS atau make love lah..."

"Belum pernah??... Lihat saja Blue film di VCD."

"Apa fantasi Vivi?"

"Nga taulah suka atau tidak. Tapi Vivi suka timbul perasaan aneh habis nonton film gituan tuh. Tentang fantasi...hmmmmmmmm"

"Apa fantasi Vivi dalam hal SEKS?"

"Kak gimana kalau kita coba bermain seperti itu... Kakak maukan ajarkan kepadaku.."

Bagaikan petir menyambar di siang bolon jantungku berdegup dengan kencang kaget mendengar permintaan Vivi tersebut. Betul nih Vivi mau? Hasrat berahi sudah mulai bergelora dihati. Aku jadi salah tingkah.

"Apakah itu benar atau hanya sekedar emosi semata?"

Vivi ketawa."Ya maulah... Kak,” Kakak Angga maukan ajarin."

" Vivi ini masih virgin loh? Vivi ingin belajar hal itu dengan Kakak Angga? Vivi benar nga menyesal di kemudian hari?"

"Walaupun Vivi masih 100% virgin. Tak ada rasa penyesalan. Yang Vivi inginkan aku diajar melakukan SEKS dengan Kakak Angga. Dengan nada yang polos akibat ingin merasakan hal yang seronok dan penuh hasrat berahi."

"Nanti Vivi buat repot Kakak, kalo Kakak nga mau melakukan hal itu sama Vivi."

Kami berdua ketawa.

"Tidaklah.... buat apa bikin repot. Vivi pandai mengoda pandai juga memainkan perasaan Kakak. Cermat dimulut rahasia diperut."jawab Vivi dengan lantangnya.

Gue yakin dan percaya bahwa kalo dia lebih banyak berkhayal dan berangan - angan. Hal ini tidak membuat gue beranggapan buruk atau negatif terhadapnya. Meskipun umurnya masih muda, namun khayalannya seperti nyata. Inilah yang menyebabkan aku sangat-sangat ingin mengenalinya lebih dekat lagi.

"Woww rapi sekali kamar Kakak Angga. Walapun kecil tapi nyaman."kata Vivi sambil merebahkan tubuhnya di kasurku yang empuk itu.

"Woww... ada tape deck nih sambil dia tengkurap dikasur yang empuk itu "ujar Vivi sambil mencoba menyetel kaset.

Lalu aku duduk dekat tubuhnya yang masih memakai seragam sekolah ,sambil membelai tubuhnya.

Lalu Aku mengecup belakang lehernya, menjilat dengan lembut telinga kiri dan kanannya. Vivi tampaknya mulai terangsang dan suara desah nafasnya mulai terengah - engah. Tanganku meraba-raba belakangnya sambil berbisik. Kukecup bibir yang mungil dan merekah itu lalu menjelajah lelangit mulutnya. Lidah kami berlaga dan Vivi merasa terbuai. Aku mengulum lidahnya. Aku mengecupnya dengan penuh gairah.

" Vi.. kamu begitu cantik sayang...." rayuku.

Vivi membuka matanya sambil memandang wajahku dengan sayu sambil tanganku meremas dengan lembut payudaranya lalu membuka kancing kemeja sekolahnya lalu kedua tangan Vivi diangkat ke atas. nampaklah dua buah dada yang mengkal dibalut Bra berwarna putih. Dada Vivi naik dan turun dengan nafasnya keras. Tanpa menunggu lama, aku terus membuka pengait Bra Vivi. Terpesona aku dengan puting susunya yang berwarna merah muda dan buah dada yang begitu putih mulus yang mulai mengeras. Dengan nafsu yang mengelora aku mengecup, mengulum, meremas di payudara gadis itu.

"Sssss..uussshhh...hmmmmm,"desis Vivi membusung dadanya putting susunya untuk aku jilat dan hisap. Puting susu Vivi mengeras kuemut dan kuisap dengan gairah. Tangan Vivi membelai rambutku tanda dia sudah sangat terangsang apabila aku meremas-remas lembut buah dadanya.

Kuisap dan kuremas buah dadanya baik sebelah kiri, kualih ke buah dadanya yang kanan, silih berganti..mata Vivi mulai berbinar sambil merem – melek sambil mulutnya tak henti-henti mengerang manakala kakinya meronta – ronta di kasurku yang empuk hingga bantal gulingku jatuh terhempas dari kasurku .

Vivi meminta aku melepaskan celana panjangku...aku dapat mengerti yang dimaksudkan Vivi, ingin melihat dan memegang batang Tititku yang keras itu.

Sebelum aku melepas celana panjang, aku berbisik," Vi... celana dalam putih kamu seksi sekali sayang..."

Vivi mengangkat punggungnya dan aku mengangkat rok sekolahnya dan nampaklah gundukan daging empuk dibalik celana dalam yang di pakainya... mataku tertumpu pada gundukan daging empuk Vivi. Waduhhh halusnya memekmu! Vi...

"Vivi kamu sungguh cantik... sekali buah dada dan memekmu.. huuuuu.. membuatku kagum... boleh Kakak mainin memekmu sayang." Sambil aku menjilat bibirku dan mengenyitkan mataku kepada Vivi.

Vivi menggangukan kepala dengan wajahnya yang sudah terangsang menatapku. Lalu aku mencium selangkangan yang masih terbungkus celana dalam putih Vivi mengepit kepalaku dengan pahanya.

Aku melepaskan kemejaku dan membuka kaos dalam dan kini telanjang di hadapan Vivi. Vivi tersenyum dan tanpa rasa malu. Malah berani.

"Ohhh mama....!!"jerit Vivi sedikit kaget dengan matanya terbelalak," Hmmm.. besar dan panjangnya Titit Kakak.. Surprise.Tak sangka."

Dan Vivi mulanya berbaring, aku yang berdiri di depannya. Dia bagun dengan rasa percaya diri memegang Tititku yang keras tegang lalu melurut-lurutnya dengan kelembutan tangannya.

"mmmmmmh…urutan enak sayang,"kataku mendesah halus merasa nikmat hangat telapak tangan Vivi.

Aku mulai membenamkan wajahku ke celah selangkangan Vivi. Aku jilat itil memeknya yang begitu mempesona indah di pandang mata. Hidungku menghirup aroma memek Vivi yang harum dan auranya menyesak syahwat.

Lidahku menari dan mencari itil/clitoris pada memeknya Vivi. Kujilati memek dengan lidahku. Kubuka alur bibir mungil memeknya yang merekah, kemudian kutenang dengan lidahku ke kelentit Vivi dan
memutarkan lidahku searah jarum jam pada biji merah yang terletak pada bagian atas menyempil itu.

"Arghhhh.. ohhhh.. aahhh.. ahh.. enak, uuhhhh.. ahh.. hu...ah...."Vivi mendesah. Punggungnya terangkat-angkat sedang rambutku ditarik -tarik. Vivi sedang menikmati kenikmatan yang diidam-kannya.

Memek Vivi pun basah dengan lendir yang meleleh keluar dari lubang memeknya bercampur dengan air liurku. Aku meneruskan jilatan, dan kenyotan manja pada kelentit/itil/clitoris Vivi. Itil Vivi yang merah menonjol tak henti-henti kukenyot-kenyot seperti yang aku mengenyot puting buah dadanya. Vivi menggelepar sambil mengerang. Lidahku menjelajah alur memeknya dan kujulurkan lidahku ke dalam lubang memeknya. Dia menjerit dan tubuhnya mengenlinjang.

"Arghh.. enaknya... mmmmmhh.. lagi.. terusssssss Kak.. Vivi tak tahannnnnn..."jerit Vivi mengelinjangkan pinggulnya terangkat sambil mengepit dan membenamkan wajahku di memeknya. Sambil menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan menahan nikmat. Nafasnya mengebu - ngebu.

Setelah itu tangan Vivi mulai mengocok Tititku dengan lembut. Kepala Tititku sejak tadi asyik menganguk-angguk dan kembang tanda bersedia untuk menyelami liang surga Vivi.

Kakinya kukangkangkan seluas-luasnya agar memudahkan aku memasukkan batangku. Aku mengambil sebuah bantal dan kuletakkan di bawah pinggulnya agar lebih mudah untuk aku memasukkan Tititku ke dalam lubang memek Vivi yang sudah basah.

Sebelum aku memasukkan Tititku, kuelus - elus kelentit/itilnya Vivi dengan ibu jari kiriku manakala tangan kananku memegang lalu mengarahkan kepala Tititku yang kembang berkilat tepat pada lubang yang sedang merekah bagaikan bunga menanti. Vivi tubuhnya menggelinjang, tangannya meremas kain sprei kasurku sambil mengeluarkan suara desahan dimana Vivi merasakan daging Tititku masuk kedalam memeknya.

Perlahan-lahan aku mulai membenamkan Tititku, masuk lubang memeknya Vivi. Vivi mengerang keenakan.”

"Aaaaaahh!!!! Kak... mmmmhh.... Pelan-pelan Kak..."desah Vivi sambil tangan kanannya membuka bibir memeknya dan tangan kirinya meremas payudaranya, bibirnya mengganga sambil memejamkan matanya menahan perasaan nikmat yang terjadi di sekitar memeknya.

Ku benamkan Tititku lagi. Sekali lagi Vivi mendesah sambil menahan gerak punggungnya. Lalu aku kecup bibirnya sambil menjilat lehernya kemudian menggenyot puting susunya kembali sambil meneruskan gerak maju mundur ke lubang memeknya dengan Tititku menerobos gua kenikmatan Vivi yang masih sempit, hangat, serta basah.

"Aaaaahh!!! enaknyaaa... besar sekali Titit Kakak... mmmmmhhh... menguak memek Vivi... yang masih sempit itu" Vivi mendesah menahan rasa geli sambil mulutnya mengumam dan matanya merem - melek sambil nafasnya terengah - engah.

"Enak ya sayang. Rileks... saja kamu merasa sensasi kenikmatan." pujukku sambil memegang kedua belah kakinya ke atas dengan tititku maju mundur di celah selangkangannya. Mulut memek Vivi menerima kehadiran tititku dengan gerakan perlahan dan cepat.

"uuhh... ah.. ah... mmmh... ampun... nikmatnya.. terusss Kak enak." Vivi mulai mengoyangkan punggungnya menerima irama maju mundur Tititku ke dalam lubang memeknya. sentuhan tititku dengan dinding memeknya menambahkan lendir dan membuat memeknya basah.

Vivi mengerang keenalkan. Wajahnya sayu akibat gejolak berahi yang terpendam. Matanya merem - melek. Sekejap kelopak mata hitamnya ke atas. Dia mendesah,mengerang, sambil dia menahan nikmat dengan mengeraskan perutnya. Menahan kenikmatan yang amat sangat dan aku merasakan cengkraman yang kuat dari memeknya menjepit seluruh batang Tititku. Dia menikmati beberapa kali orgasme.

Aku menjilat jari jemari kaki Vivi. Dia kegelian dan mencoba melarikan kakinya dari jilatanku. Sehingga aku merasakan dinding memeknya mengemut Tiritku bila telapak kaki dan tumitnya kujilati. Vivi tidak berdaya dan dia menahan nikmat sambil menerima serangan-seranganku.

Kucabut Tititku lalu aku membenamkan mukaku ke memeknya. Kujilat kelentit, dan menjulurkan lidahku ke dalam lubang memeknya. Kali ini kujilat lubang duburnya dan Vivi mengelinjang keenakan.

Aku meminta Vivi menungging. Lalu dia membetulkan kedudukannya. kemudian ku masukkan Tititku dari belakang ke dalam lubang memeknya dalam posisi doggie style.

"ahhh... enaknya... terasa sekali Titit Kakak dalam memekku...."desah Vivi.” sambil aku memompa Tititku dari belakang, tangannya Vivi mengelus - elus buah dadanya dan sesekali kutepak pantantnya dengan manja. Kemudian aku meremas buah dadanya Vivi.

Aku mempompa dari belakang maju mundur dengan cepat. Vivi menerima sambil mengerang keenakan. Dia menarik kain spreiku dan dengan kuat menahan hentakan Tititku ke dalam kewanitaannya.

Ku perhatikan kain spreiku basah akibat tetesan cairan yang kental bercampur dengan darah. Aku tersenyum dan Vivi mulai mengerang akibat pompaan dan hentakan Tititku ke dalam lubang memeknya dengan gerakan cepat dan kuat. Aku memegang bahunya supaya seluruh Tititku habis ditelan memeknya Vivi.

"Eeenakk Kak... lagiii sayang... Tititmu sangat... Nikmaaat erangan Vivi." Sambil Vivi mengoyangkan pinggulnya.

Kini kami kembali ke posisi tradisional. Aku membelai, mengusap dan mengurut Azie, dari buah dadanya sampai ke memeknya. Vivi berbaring telentang dan mengangkangkan kakinya. Nafasnya terengah - engah dan dia mengelap airmatanya.

"kenapa sayang...?"tanyaku sambil mencium keningnya.

"Enaaakk.." balas Vivi sambil mengelus – elus Tititku yang keras." Nakal nih Titit kakak. Besar, panjang, keras dan tegang."

Kami ketawa bersama dan aku kembali membenamkan mukaku ke memeknya lagi dan mulai aku menjilat dan meminum jus madu dari memeknya. Sekali lagi Vivi mengerang keenakan.

Vivi mengelinjang keenakan bila aku entot memeknya. Kedua kaki Vivi diletakkan pada bahuku sehingga bola keranjang Tititku membelai lubang duburnya. Mata Vivi terpejam dan dahinya mengkerut menahan nikmat yang sedang dirasainya. Sesekali aku dapat lihat kelopak mata hitam Vivi juling keatas. Vivi benar-benar menikmati Tititku.

"Kaaaaak... Kakk... Vivi mau kelluuaar...ssstt.. aaahh.... Kaaa.. uuhh!!... yah... terusss... Kaaaaaa..." kedua kaki Vivi mengejang sehingga otot memeknya mencengkram Tititku sangat kuat, sambil tangannya mencengkram punggungku begitu erat manakala kepalanya menggeleng-geleng ke kiri ke kanan, dan Aaarghhh... cruuut... cruuuuuut.... cruuuuuuth keluar air kenikmatan Vivi....

Vivi mencapai orgasm. Serentak dengan reaksi itu terasa kepala Tititku begitu hangat diselaputi cairan kental dari memeknya Vivi. Aku menghentikan genjotanku dan membiarkan dinding memek Vivi mengenyot - enyot tititku. Aku benamkan Tititku maju mundur sedalam mungkin.

Tititku terasa mau meledak. Laharku akan menyembur kukeluarkan ke arah buah dadanya.

" Crutttt.... cruuuuttt... cruuuuutttt!!!" muncratlah air maniku membasahi muka dan buah dadanya Vivi. Vivi tersenyum puas sambil menjilat air maniku dengan lidahnya...

"Hmmhh.urghhh..I lost my virgin.."desah Vivi menekup wajahnya.

Aku memeluk sambil mengecupnya, dan Vivi membalasnya.

"Vivi menyesal? Tanyaku kepadanya?"

"Nggak... Vivi bahagia dan gembira sekali."jawab Vivi memeluk tubuhku.

Sejak hari itu, aku sering bersetubuh dengan anak remaja sekolah ini. Nampaknya Vivi ketagihan dengan Tititku ini. Dan Vivi juga good and fast learner. Dia sangat pandai di sekolahnya dan selalu rangking. Dia sering kali menyediakan waktu untuk belajar SEKS denganku. Dan aku yakin akan kata-katanya 'Cermat dimulut rahsia diperut'. Hahaha!!!


Tamat