Senin, 09 Juli 2007

Ita Anak Tiriku

Sudah satu bulan aku pulang pergi ke rumah sakit karena istriku sedang sakit lever yang cukup akut. Aku tinggal di rumah bersama satu pembantu dan Ita anak tiriku yang baru saja menginjak kelas satu SMA.

Sore itu aku baru pulang kantor dan hendak ke rumah sakit pukul 18.00 WIB, aku sedang duduk di teras depan sambil membaca koran harian sore.

"Sore pak… ini Ita buatkan teh buat bapak.." sambil Ita memberikan secangkir teh kepadaku.

"Makasih Ta...! " jawabku padanya.

"Bibi kemana Ta..?" tanyaku padanya, karena dari tadi pembantuku tidak kelihatan.

"Tadi katanya mau nengok saudaranya di Pulo Gadung..!" jawabnya.

Sore itu Ita kelihatan nampak sexy sekali, mengenakan bawahan pendek putih dan kaos tipis, sehingga tampak lekuk tubuhnya membuat libidoku menjadi bangun apalagi aku sudah lama tidak mendapatkan kenikmatan dari istriku.

"Pak kelihatannya tampak lelah sekali ya pak... ?"

"Iya Ta" jawabku.

"Ita pijitin ya pak..."

Lalu Ita tanpa dikomando sudah memijit kepalaku.

"Oh pijitan kamu enak sekali Ta... !"

"Iya dong pak... ! " jawabnya.

Aku dipijit Ita dari belakang dan jemari tangannya membuat aku semakin ingin menerkamnya. Dan tiba-tiba posisi Ita berganti memijatku dari depan sehingga dua gundukan susu Ita tampak jelas terlihat. Sesekali tubuh Ita menempel ke tubuhku dan kontolku pun semakin keras mengacung ke depan.

Aku mencoba untuk tenang dan memejamkan mata, tapi ketika tangan Ita mulai memijat punggungku dan tubuhnya sangat rapat sekali dengan tubuhku, sehingga dengan sengaja aku majukan pinggulku.

"Ah... Tititnya Bapak nyenggol lutut Ita nih......!!!" candannya padaku.

"Kalau nyenggol memangnya kenapa Ta...?"

"Ah bapak... Ita hentiin nih mijitnya..?!"

"Jangan dong sayang... Ita enggak kasihan sama bapak… ?"

Lalu aku tarik pinggul Ita dan langsung Ita tertarik tubuhnya di pangkuanku. Ita mencoba untuk bangkit tapi aku malah mendekapnya.

"Pak... ah... pak... jangan... dong…!!"

Tapi apa boleh buat posisi Ita sudah dalam pangkuanku, dengan kondisi berhadapan dan kedua kakinya tepat berada dalam sanggahan pahaku. Sementara bawahan pendeknya sudah agak sedikit tersingkap dan kontolku sudah menempel tepat di memeknya. Lalu aku tekan pinggul Ita dan pinggulku aku gesek-gesekkan ke arah pinggulnya dan terasa gundukan daging memek Ita terkena benggolan kontolku yang besar.

"Pak ah... pak... ja... jangan... pak...geliii!!" Ita mencoba meronta tapi sesekali dia tampak sedikit menikmati karena di balik rontaannya terkadang ada satu gerakan pinggulnya yang mencoba mengimbangi irama gerakanku.

Ita mulai mengurangi gerakannya dan akupun semakin menggila. Aku keluarkan seluruh kontolku dari balik celanaku, sehingga makin menyembul keluar, lalu aku kulum mulut Ita dengan mesra. Awalnya dia agak kaku tapi lama-kelamaan mengikuti juga irama ciumanku.

Sleep... ah... sleeep ah... Ita mendengus ketika lehernya mulai kena oleh serangan bibirku.

"Ah... pak .. enak... pak… Ita belum merasakan seperti ini" rintihnya.

Lalu tangan kiriku mulai menelusup ke dalam bawahannya dan aku langsung merangsek ke bagian depan celana dalamnya. Terasa mulut memek Ita sudah basah. Jari-jariku menyisir bagian pinggir celana dalamnya dan aku singkapkan sedikit, sehingga aku merasakan lubang memek Ita sudah bebas tidak tertutup lagi oleh celana dalamnya. Lalu aku arahkan kontolku mencari lubang kemaluan Ita. Dan ketika aku tekan aku merasakan ujung kontolku sudah tepat di lubang memeknya dan ketika aku tekan.

"Ah... pak... ngilu... pak... ahhh... geliii !!!" Mata Ita tampak terbelalak.

"Bentar sayang bapak masukin ya..." dan napasku makin mendengus.

"Tapi... pak... ah... ah... ge... gelii… pak....!!!"

Ketika seluruh kontolku masuk merangsek memeknya yang masih sempit itu, kontolku merangsek masuk dan rasanya begitu sempitnya memek Ita.

"Bapak... aduh... bapak... aduh… pak... ah... ah....!!!"

Ita mulai menjambak rambutku, ketika kontolku menghujami memeknya berkali-kali.

Sleep... slepp… sleep... plok... plokkk... antara pahaku dengan paha Ita saling berbenturan.

"Ahhh... aaah... aaaah... bapak sudah pak..... memek Ita ngilu..!!!!"

"Bentar sayang... uh.... uhhh… bapak lagi enak.....!!!"

Aku terus merojok-rojokkan kontolku pada Ita, sehingga Ita terkadang meringis menahan sakit tusukan kontolku. Tubuh Ita sudah mulai agak sedikit lunglai dan tersandar pada tubuhku, sedangkan pinggulku masih dengan perkasa menggoyang naik-turun sehingga seluruh kontolku keluar masuk ke memek Ita yang masih perawan itu.

"Bapak... bapak.... enaaak... pak... ah.... ah... pak… kenapa jadi begini... pak..."

Tubuh Ita nampak sudah basah kuyup oleh keringatnya yang keluar deras dari pori-pori kulitnya.

"Oooh sayang... oh... punya kamu enak sekali... ooohh....!!!!"

Lalu aku hentak keras ke atas ketika ujung kontolku sudah terasa akan mengeluarkan spermaku. Crooot.... crooot... croot.... ah… ah... aku dekap Ita dengan pelukanku begitu erat. Pinggulku aku tekan kuat-kuat ke arah memeknya. Seluruh spermaku masuk ke dalam memeknya dan Itapun menjerit histeris.

"Ah... paaaaak.... ah....."

Aku biarkan kontolku menancap di memek Ita. Aku merasakan denyutan rongga-rongga memek Ita. Kami terdiam sejenak, sementara Ita masih dalam dekapanku dengan rambut yang masih acak-acakan.

"Hmmm… pak... hmmm" Enak..." Ita mulai sedikit merajuk.

"Kenapa sayang... enak enggak punya bapak ?"

"Ah... bapak… punya Ita sobek nih pak... ah... bapak jahat" sambil tangan Ita memukul-mukul ke arah tubuhku.

Lalu Ita merebahkan tubuhnya ke tubuhku dengan manjanya sambil jari-jari manisnya memainkan ujung rambut panjangnya.

"Pak... bapak puas engga ngentotin Ita ?" tanyanya padaku.

"Bapak puas sayang... punya Ita enak sekali... mandi bareng yuuk sayang... nanti kita jenguk ibu di rumah sakit"

Ita mengangguk kecil dan kami akhirnya untuk pertama kali mandi bersama. Setelah mandi aku dan Ita pergi menuju rumah sakit.