Sabtu, 14 Juli 2007

Pembantu Paman-ku Seksi Sekali

Ini dimulai saat saya mulai kuliah ke kota T. Karena saya punya saudara yang tinggal di sana, maka saya tidak perlu menyewa kamar kost untuk ditinggali.
Saya berumur 19 tahun waktu itu dan tinggal di rumah om saya yang berumur 40-an dan bersama tante saya serta dua anak laki-laki yang masih sekolah di sekolah dasar. Rupanya di tempat om saya tersebut, mereka dibantu oleh pembantu bernama Sumini dari kota M yang berumur lebih tua 2 tahun dari saya, tubuhnya putih bersih, tinggi 160-an dengan rambut ikal dan ukuran payudara kira-kira 34B. Untuk wajahnya, dapat dikatakan manis, apalagi bila ia sedang tersenyum. Saya pun sempat berpikir yang tidak-tidak.
Karena waktu itu saya baru tiba, saya sedang sibuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Sampai memasuki bulan keempat, saya mulai terusik dengan cara Sumini berpakaian yang lebih cenderung pakaian tersebut dipakai saat tidur.
Bayangkan, ketika saya pulang kuliah siang hari dia hanya memakai daster yang pendek sekali dan karena daster tersebut berwarna terang, maka bra dan celana dalamnya terlihat dengan jelas membayang. Pikiran saya waktu itu, wah, pembantu ini sepertinya memancing sesuatu… namun karena saya belum berani, maka saat nonton televisi bersama dia (sambil menyuapi anak-anak om saya yang masih SD) saya sering mencuri lihat ke bagian dalam pahanya yang putih mulus karena dia duduk bersila di lantai.
Om dan tante saya adalah pegawai di sebuah perusahaan dan kantor pemerintah, jadi sehari-harinya selalu sibuk, ditambah banyaknya akitivitas lain yang mereka kerjakan. Sehingga terkadang rumah om saya selalu kosong dari pagi hingga malam sekitar pukul 07:00, paling yang ada di rumah hanya si Sumini dan keponakanku yang kecil-kecil.
Suatu saat, siang hari, saya yang sedang membayangkan bagaimana cara meniduri si Sumini, tiba-tiba mendengar Sumini menutup pintu kamar mandi di belakang. Karena pegangan pintu kamar mandi tersebut rusak dan sedikit berlubang di pegangan kuncinya, maka saya punya pikiran iseng untuk mengintipnya.
Saat mengendap dan membungkukkan badan mengintip, saya melihat pemandangan menakjubkan. Sumini sedang mengguyur tubuh molek nan putih miliknya. Seketika saya menjadi terangsang hebat. Payudaranya yang lumayan besar itu masih montok sekali dan siap diremas. Juga memeknya yang nampak bersih dan polos.
Titit saya yang sudah menegang sepertinya tidak lagi bisa diajak kompromi. Saya harus menidurinya sekarang, atau tidak sama sekali. Begitu pikiran saya saat itu.
Karena hari itu masih siang dan adik-adik sepupuku sedang main di rumah tetangga yang lumayan jauh, maka saya langsung bergegas menutup pintu samping, depan dan belakang lalu menguncinya. Kemudian saya masuk ke kamar si Sumini untuk menanggalkan celana pendek saya dan membiarkan titit saya mengacung-ngacung tegang.
Begitu selesai mandi, saya mendengar langkah Sumini mendekat. Saya tahu, Sumini kalau sehabis mandi pasti hanya membaluti tubuhnya dengan handuk, makanya saya menunggu di balik pintu kamarnya untuk menyergapnya.
Saat Sumini masuk, saya langsung memeluk dan menciumi bibirnya, supaya ia tidak teriak…
“Mas, ssshhhhh……mmmpppphhhh..” Sumini melenguh ketika saya menyumpal mulutnya dengan bibir saya tanpa memberi kesempatan dia untuk berteriak atau tindakan lain yang bisa membahayakan saya.
Sumini berontak, namun sepertinya dia juga menginginkannya. Saya berpikir sesaat, ini memang saatnya.
Dengan tangan kiri saya tetap memeluk dia, namun tangan kanan saya mulai mempeloroti handuknya dan terbukalah semuanya… Setelah itu saya remas pelan, supaya tidak terlihat diperkosa, tetek-nya yang ranum dan putih itu. Sambil memainkan putingnya perlahan.

“nnnggghhh… uuugghhh,,,” Sumini masih melenguh namun masih berusaha melepaskan diri dari pelukan saya.

Karena saya merasa belum berhasil membuat dia menikmatinya, saya menurunkan tangan kanan saya untuk menyibak bibir memeknya itu dan mulai memainkan jari tengah saya di bibir memek-nya.
Ternyata memang berhasil, Sumini mau saja ketika saya menggiringnya ke tempat tidurnya dan mulai membalas pelukan saya. Sementara jari saya memainkan memek-nya, bibir saya mulai menciumi leher, dada, kuping dan tetek-nya yang seksi itu. Putingnya yang berwarna kemerahan mulai menegang, saya mengulumnya dengan lembut sambil memainkan lidah dengan mengitari lingkaran puting yang indah itu.

“uuuhhhh… mas… sssshhhtttt…”

Kemudian tangan kiri saya menarik pelan tangannya untuk memegang Titit saya yang sudah mengeras dan membesar dari tadi. Sumini tampaknya tahu apa yang harus dilakukannya, ia meremas dan mengocok pelan batang titit saya dengan kasar dan tidak sabar.
Sementara tangan kanan saya memainkan memek-nya dan bibir saya melumat putingnya, tangan kiri saya mulai meraba kulit pahanya yang halus itu dan meremas-remas pantatnya yang seksi dan halus itu.
Perlahan, memek-nya mulai basah dan saya mulai turun ke daerah selangkangannya sambil menciumi perutnya yang seksi dan mulai menjilati selangkangannya.

“ennnggghhhh,,,uuunnnggg…” lenguhan Sumini semakin liar saja. Sedangkan saya semakin betah memainkan tubuhnya, karena tubuhnya yang harum sehabis mandi.

Saya menjilati memek-nya yang masih rapat dan bersih itu pelan dengan membuka bibir memeknya menggunakan jempol dan telunjuk kanan. Pelan, dari bawah ke atas, kemudian lidah saya memutari bibir memeknya sehingga desahan-desahan Sumini semakin liar dan kakinya melingkar di punggungku.
Saya tidak ingin memasukkan jari saya ke dalam memek-nya, karena saya takut dia masih perawan. Sayang ‘kan kalau saya memerawaninya dengan jari…
Setelah beberapa menit memainkan lidah saya, saya memutar badan saya dan menghadapkan titit saya ke mukanya, sehingga posisi-nya menjadi 69. Sumini langsung menjilat-jilat titit saya sambil memeganginya.

“Mbak, dihisap tititnya… masukkan ke dalam mulut,” pinta saya kepadanya yang langsung di-iya-kan, karena ia langsung melahap titit saya.
Setelah menghisap titit saya, lalu saya memutar posisi untuk bersiap memasukkan titit saya ke dalam memeknya. Dengan masih menciumi teteknya, saya mengambil bantal dan menyelipkan di bawah pinggangnya. Lalu dengan bertopang pada lutut dan tangan kiri, saya membimbing titit saya ke arah memeknya yang telah menunggu.
Perlahan, kepala titit saya menelusup ke dalam memeknya yang rapat dan berwarna kemerahan itu.
“Mbak, tahan sedikit ya… ini agak sakit,” kata saya membisiki kupingnya.
Dia hanya mengangguk pelan sambil memeluk punggungku dan mendesah-desah pelan.
“aahhhh…uunnggghhhh…”
Saya mulai mengayun pinggul saya supaya lebih mudah memasukkan titit saya ke dalam memeknya. Sekali, dua kali, setengah titit saya sudah masuk ke dalam memeknya.
“Mas, geliiiii… ennggghhhh…” Sumini melenguh sambil merangkul saya.
“Sebentar lagi, sayang” Lalu dengan satu entakan, akhirnya pertahanan Sumini jebol juga. “aaahhhhhhh…” Sumini setengah teriak, namun saya langsung menyumpal bibirnya dengan bibir saya supaya tidak terdengar sampai ke luar rumah.
Saya mendiamkan Titit saya terbenam di dalam memek-nya, supaya ia terbiasa dengan Titit saya.
Pelan namun pasti, saya mulai mengayunkan pinggul saya dengan pelan, sambil melihat titit saya yang sudah dilumuri cairan kental bercampur darah perawannya.
Tak lama, nampaknya Sumini sudah bisa menikmatinya. Terbukti erangannya sudah menyiratkan kenikmatan, sambil dia menggigit bibir bawahnya.
Saya menggoyangnya semakin keras, sampai saya memutar tubuhnya dan mengangkat pantatnya untuk menikmati gaya doggie. Pantatnya yang putih bersih saya elus, remas dan mulai saya masukkan lagi titit saya ke dalam memeknya. Pelan, namun bentuk memeknya erotis sekali ketika saya mengeluarkan dan memasukkan titit saya.
“aaahhh…uuuhhhh,…ooohhh…” Sumini terus melenguh.
Lalu saya membungkuk dan tangan kiri saya mulai meremasi teteknya yang menggantung saat dia menungging indah.
“oohhh… sayanggg… memek kamu enak…”
“ennnggghhh… uuuuhhh…. oooouuu, Titit kamu… ssshhhh… enak juga massss”
Puas memainkan pantat dan teteknya, lalu saya menyuruhnya menaiki saya yang mengambil posisi tiduran.
Lalu dia naik dan memegang titit saya sambil membimbingnya ke bibir memeknya.
Bleess… titit saya masuk dengan gemilang dan saya merasa nikmat tiada tara.
“uuuhhh… aacchhh… terusin goyanganmu, sayang…”
Lalu dia menggoyang semakin liar, dan tampak dia menjatuhkan tubuhnya ke dada ku dan menegang sambil meremas rambutku.
“Mas, aku mau keluarrrr…”
“eessshhh… iya, keluarin semua sayang…”
Tak lama ia lemas dan kembali saya memutar tubuhnya dan saya menggejotnya semakin liar.
“Sayangg… mas juga mau keluar”
Semakin cepat dan saat mau keluar, saya benamkan batang titit saya kedalam memeknya dan memuntahkan air mani saya.
Saya mengeluarkannya di luar demi kasih sayang saya. Akhirnya saya pun terkulai berbaring di sebelahnya.
“Terima kasih ya, Mbak…”
“Iya, Mas. Aku juga senang koq.”
Tak lama kemudian saya mulai berpakaian dan mencium bibirnya sebelum masuk ke kamar mandi dan mencuci titit saya.

Sejak itu saya dan Sumini rutin melakukan hubungan sex. Baik di kamar saya, kamar dia, kamar mandi, dapur (saat dia memasak), atau saat dia sedang menungging mengepel lantai. Namun, itu hanya berlangsung satu setengah tahun, karena dia harus kembali ke kampung halaman untuk membantu orang tuanya di ladang.

TAMAT

2 komentar:

herizal alwi mengatakan...

:D

hariyanto panigoro mengatakan...

Lumayan bagus.. Tapi ga'k nafsu ah